Test Footer 2

coment

Jumat, 24 Mei 2013

masa Kehamilan

     


Masa kehamilan adalah masa dimana seorang wanita memerlukan berbagai unsur  yang lebih banyak dari biasanya. Kesehatan yang baik sebelum kehamilan karena mempunyai efek yang besar terhadap ibu dan janin yang dikandung. Suatu kehamilan normal berlansung 280 hari mulai ovulasi sampai dengan  partus. Selama kehamilan akan terjadi perubahan ibu dan janin. Janin berkembang dari 2 sel dalam bentuk ( janin ) yang mampu hidup di luar uterus. Tubuh ibu berubah untuk mendukung perkembangan kehidupan baru dan menyiapkan janin ke luar dunia ( Wiknjosastro,2005 ).
Masa kehamilan dibagi menjadi 3 trimester, yaitu :
a.       Trimester pertama, dimulai dari proses konsepsi sampai umur kehamilan 3 bulan.
b.      Trimester kedua, dimulai dari bulan keempat sampai usia kehamilan enam bulan.
c.       Trimester ketiga, dimulai dari bulan ketujuh sampai usia kehamilan sembilan bulan. ( Huliana,2001 )


  1. Perubahan anatomi dan fisiologi pada kehamilan aterm
Menurut Prawirohardjo (2008), perubahan anatomi dan fisiologi pada kehamilan adalah :
a.       Uterus
Berat uterus normal kurang lebih 30 gram, pada akhir kehamilan berat uterus ini menjadi 1000 gram, dengan panjang kurang lebih 20 cm dan dinding kurang lebih 2,5 cm. Pada bulan-bulan pertama kehamilan bentuk uterus seperti buah advokat, agak gepeng. Pada kehamilan 4 bulan uterus berbentuk bulat. Selanjutnya pada akhir kehamilan kembali seperti bentuk semula, lonjong seperti telur. Hubungan antara besarnya uterus dengan tuanya kehamilan sangat penting diketahui, antara lain untuk membuat diagnosis wanita tersebut hamil fisiologik atau hamil ganda atau menderita penyakit seperti mola hidatidosa dan sebagainya.
Bila pertumbuhan janin normal maka tinggi fundus uteri pada kehamilan 28 minggu sekurangnya 25 cm, pada 32 minggu 27 cm, pada 36 minggu 30 cm. pada kehamilan 40 minggu fundus uteri turun kembali dan terletak kira-kira 3 jari di bawah prosessus xifoideus. Hal ini disebabkan oleh kepala janin yang pada primigravida turun dan masuk ke dalam rongga panggul.
Pada triwulan terakhir ismus lebih nyata menjadi bagian korpus uteri dan berkembang menjadi segmen bawah uterus. Pada kehamilan tua karena kontraksi otot-otot bagian atas uterus, segmen bawah uterus menjadi lebih lebar dan tipis. Tampak batas yang nyata antara bagian atas yang lebih tebal dan segmen bawah yang lebih tipis. Batas itu dikenal sebagai lingkaran retraksi fisiologik. Dinding uterus di atas lingkaran ini jauh lebih tebal dari pada dinding segman bawah uterus.
b.      Serviks uteri
Serviks uteri pada kehamilan juga mengalami perubahan karena hormon estrogen. Jika korpus uteri mengandung lebih banyak jaringan otot, maka serviks lebih banyak mengandung jaringan ikat, hanya 10% jaringan otot. Jaringan ikat pada serviks ini banyak mengandung kolagen. Akibat kadar estrogen meningkat dan dengan adanya hipervaskularisasi maka konsistensi serviks menjadi lunak.
Kelenjar-kelenjar di serviks akan berfungsi lebih dan akan mengeluarkan sekresi lebih banyak. Kadang-kadang wanita yang sedang hamil mengeluh mengeluarkan cairan per vaginam lebih banyak. Keadaan ini sampai batas tertentu masih merupakan keadaan yang fisiologik.
c.       Vagina dan vulva
Vagina dan vulva akibat hormon estrogen mengalami perubahan pula. Adanya hipervaskularisasi mengakibatkan vagina dan vulva tampak lebih merah, agak kebiru-biruan (livide). Tanda ini disebut tanda Chadwick. Warna porsio pun tampak livide.
Pembuluh-pembuluh darah alat genetalia interna akan membesar. Hal ini dapat dimengerti karena oksigenasi dan nutrisi pada alat-alat genetalia tersebut meningkat. Apabila terdapat kecelakaan pada kehamilan atau persalinan, maka perdarahan akan banyak sekali, sampai dapat mengakibatkan kematian.
d.      Ovarium
Pada permulaan kehamilan masih terdapat korpus luteum graviditatis sampai terbentuknya plasenta kira-kira kehamilan 16 minggu. Korpus luteum graviditatis berdiameter kira-kira 3 cm. Kemudian, ia mengecil setelah plasenta terbentuk. Seperti telah dikemukakan, korpus luteum ini mengeluarkan hormon estrogen dan progesteron. Lambat laun fungsi ini diambil alih oleh plasenta. Dalam dasawarsa terakhir ini ditemukan pada awal ovulasi hormon relaxin, suatu immunoreactive inhibin dalam sirkulasi maternal. Diperkirakan korpus luteum adalah  tempat sintesis dari relaxin pada awal kehamilan. Kadar relaxin di sirkulasi maternal dapat ditentukan dan meningkat dalam trimester pertama. Relaxin mempunyai pengaruh menenangkan hingga pertumbuhan janin menjadi baik hingga aterm.
e.       Mamae
Mamae akan membesar dan tegang akibat hormon  somatomammotropin, estrogen dan progesteron, akan tetapi belum mengeluarkan air susu.
Estrogen menimbulkan hipertropi sistem saluran, sedangkan progesteron menambah sel-sel asinus pada mamae. Somatomammotropin mempengaruhi pertumbuhan sel-sel asinus pula dan menimbulkan perubahan dalam sel-sel, sehingga terjadi pembuatan kasein, laktalbumin dan lagtoglobulin. Dengan demikian, mamae dipersiapkan untuk laktasi. Di samping itu, di bawah pengaruh progesteron dan somatomammotropin, terbentuk lemak di sekitar kelompok-kelompok alveolus, sehingga mamae menjadi lebih besar. Papilla mamae akan membesar, lebih tegak dan tampak lebih hitam, seperti seluruh areola mamae karena hiperpigmentasi. Glandula montgomery tampak lebih jelas menonjol di permukaan areola mamae.
f.       Sirkulasi darah
Sirkulasi darah ibu dalam kehamilan dipengaruhi oleh adanya sirkulasi ke plasenta, uterus yang membesar dengan pembuluh-pembuluh darah yang membesar pula, mamae dan lain-lain yang memang berfungsi berlebihan dalam kehamilan. Seperti telah dikemukakan, volume darah ibu dalam kehamilan bertambah secara fisiologik dengan adanya pencairan darah yang disebut hidremia. Volume darah akan bertambah banyak, kira-kira 25 % dengan puncak kehamilan 32 minggu, diikuti dengan cardiac output yang meninggi sebanyak kira-kira 30%. Akibat hemodolusi tersebut yang mulai jelas timbul pada kehamilan 16 minggu, ibu yang mempunyai penyakit jantung dapat jatuh dalam keadaan dekompensasi kordis.
Eritropoesis dalam kehamilan juga meningkat untuk memenuhi keperluan transport zat asam yang dibutuhkan sekali dalam kehamilan. Meskipun ada peningkatan dalam volume eritrosit secara keseluruhan, tetapi penambahan volume eritrosit secara keseluruhan, tetapi penambahan volume plasma jauh lebih besar, sehingga konsentrasi hemoglobin dalam darah menjadi lebih rendah. Hal ini tidak boleh dinamakan anemia fisiologik dalam kehamilan, oleh karena jumlah haemoglobin pada wanita hamil dalam keseluruhannya lebih besar daripada sewaktu belum hamil. Jumlah leukosit meningkat sampai 10.000 per ml dan produksi trombosit-pun meningkat.
g.      Sistem respirasi
Seorang wanita hamil pada kelanjutan kehamilanya tidak jarang mengeluh tentang rasa sesak dan pendek napas. Hal ini ditemukan pada kehamilan 32 minggu ke atas oleh karena usus-usus tertekan oleh uterus yang membesar ke arah diafragma, sehingga diafragma kurang leluasa bergerak. Untuk memenuhi kebutuhan oksigen yang  meningkat kira-kira 20%, seorang wanita hamil selalu bernapas lebih dalam dan bagian bawah toraksnya juga melebar ke sisi, yang sesudah partus kadang-kadang menetap jika tidak dirawat dengan baik.              
h.      Kulit
Pada kulit terdapat deposit pigmen dan hiperpigmentasi alat-alat tertentu. Pigmentasi ini disebabkan oleh pengaruh Melenophore Stimulating Hormon (MSH) yang meningkat. MSH ini adalah salah satu hormon yang juga dikeluarkan oleh lobus anterior hipofisis. Kadang-kadang terdapat deposit pigmen pada dada, pipi dan hidung dikenal dengan kloasma gravidarum.
Di daerah leher sering terdapat hiperpigmentasi yang sama, juga di areola mamae. Linea alba pada kehamilan menjadi hitam, dikenal sebagai linea grisea. Tidak jarang dijumpai kulit perut seolah-olah retak-retak, warnanya berubah agak hiperemik dan kebiru-biruan disebut striae livide. Setelah partus, striae livide ini berubah warnanya menjadi putih dan disebut striae albikantes. Pada seorang multigravida sering tampak striae livide bersama dengan striae albikantes.
i.        Metabolisme dalam kehamilan
Pada wanita hamil Basal Metabolic Rate (BMR) meninggi, sistem endokrin juga meninggi dan tampak lebih jelas kelenjar gondoknya (glandula tireoidea). BMR meningkat hingga 15-21% yang umumnya ditemukan pada triwulan terakhir. Kalori yang dibutuhkan untuk itu diperoleh terutama dari pembakaran hidrat arang, khususnya sesudah kehamilan 20 minggu ke atas. Akan tetapi bila dibutuhkan, dipakailah lemak ibu untuk mendapat tambahan kalori dalam pekerjaan sehari-hari. Dalam keadaan biasa wanita hamil cukup hemat dalam hal pemakaian tenaganya.
Janin membutuhkan 30-40 gram kalsium untuk pembentukan tulang-tulangnya dan ini terjadi terutama dalam trimester terakhir. Makanan tiap harinya diperkirakan telah mengandung 1,5-2,5 gram kalsium. Diperkirakan 0,2-0,7 gram kalsium tertahan dalam badan untuk keperluan semasa hamil. Ini kiranya telah cukup untuk pertumbuhan janin, tanpa menganggu kalsium ibu. Kadar kalsium dalam serum memang lebih rendah, mungkin oleh karena adanya hidremia, akan tetapi kadar kalsium tersebut masih cukup tinggi hingga dapat menanggulangi kemungkinan terjadinya kejang tetani.
Fosfor, magnesium dan tembaga lebih banyak tertahan dalam masa hamil daripada dalam masa tidak hamil. Kadar tembaga dalam plasma meningkat dari 109 sampai 222 mcg per 100 ml, akan tetapi dalam eritrosit kadarnya tetap.
Dapat dipahami bahwa dengan adanya pertumbuhan dan perkembangan dalam tubuh wanita hamil akan timbul suatu keaktifan enzim yang luar biasa. Plasenta sendiri mempunyai enzim-enzim untuk oksidasi, reduksi dan hidrolosis yang banyak ditemukan ialah mono-amino-oksidase dan diamono-oksidase yang membuat tiramine dan histamine menjadi tidak aktif lagi. Enzim-enzim yang banyak dipelajari dalam masa hamil ialah diamino-oksidase (histaminases), pitosinase, glukoronidase, angiotonase dan alkalin fosfatase. Semua enzim ini ditemukan di dalam serum ibu dalam kadar lebih tinggi.
Kadar alkalin-fosfatase meningkat empat kali lipat dibandingkan dengan wanita yang tidak hamil. Peningkatan ini dimulai pada kehamilan 4 bulan. Kadar yang ditemukan pada janin adalah setengahnya dari yang ditemukan pada ibunya. Pemeriksaan kadar alkalin-fosfatase dapat dipakai untuk menilai fungsi plasenta.
Pitosinase adalah enzim yang dapat membuat oksitosin tidak aktif. Pitosinase ditemukan banyak sekali dalam darah ibu pada kehamilan 14 sampai 38 minggu.
Berat wanita hamil akan naik kira-kira diantara 6,5-16,5 kg rata-rata 12,5 kg. Kenaikan berat badan ini terjadi terutama dalam kehamilan 20 minggu terakhir. Kenaikan berat badan yang terlalu banyak sering ditemukan pada pre-eklampsia dengan akibat peningkatan morbiditas dan mortalitas ibu dan janin. Sebaiknya wanita tersebut diawasi dan diberi pengertian, sehingga berat badan hanya naik 2 kg tiap bulan sesudah kehamilan 20 minggu. Dan adanya penurunan berat badan dalam bulan terakhir dianggap sebagai suatu tanda yang baik.
Kenaikan berat badan dalam kehamilan disebabkan oleh:
1)      Hasil konsepsi : fetus, plasenta dan likuor amni
                   Dari ibu sendiri : uterus dan mamae yang membesar, volume darah yang meningkat, lemak dan  protein lebih banyak dan akhirnya adanya retensi air.

0 komentar:

bersama kopma

bersama kopma
ceria

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Google+ Followers

Translate